Kisah Ceria dari Pantai Siung

Kisah ini ditemukan saat saya membuka folder-folder catatan perjalan. Atas dasar ingin memberikan informasi "apa saja yang bisa anda lakukan di pantai", maka saya mengunggah tulisan yang saya buat satu tahun lalu, bahkan lebih 3 bulan. Tulisan ini dibuat saat saya masih menjadi calon anggota muda MAPAGAMA (Mahasiswa Pecinta Alam UGM). oya, sebenarnya keinginan untuk mengunggah cerita perjalanan ini adalah karena saya -entah mengapa- sedang rindu dengan teman-teman angkatan Gladimula 32, hehe. tanpa banyak basa-basi, ini dia kisah cerita dari Pantai Siung!

Camping ceria atau camcer, merupakan kelanjutan dari rangkaian acara Gladimula 32. Di acara ini, tiap detik acaranya diharap membawa keceriaan bagi setiap individu yang ikut bergabung di dalamnya. Aturannya, manusia-manusia yang pada acara Gladimula 32 menjadi peserta, kini menjadi panitia. Begitupun sebaliknya. Berbagai persiapan dilakukan oleh kami, sajan16 yang bertindak sebagai pelaksana. setelah melakukan berbagai pertimbangan, akhirnya dipilihlah Pantai Siung sebagai tempat yang diharapkan menjadi sumber keceriaan kami.

Yogyakarta, 6 Februari 2016
Rombongan sepeda motor milik panitia dan peserta camping ceria pun melaju menuju lokasi camcer setelah sebelumnya melakukan briefing dan cek logistik serta segala sesuatunya di akuarium kami. Perjalanan ke Pantai Siung Gunungkidul ditempuh dalam waktu kurang lebih tiga jam dengan melewati tiga meeting point. Panas terik campur debu dan asap kendaraan di jogja, serta mendung campur gerimis di Gunungkidul menemani perjalanan kami siang itu. Tikungan tajam yang kadang disertai turunan ditengah-tengah perbukitan kapur dan ladang palawija serta barisan pohon jati juga turut menyambut kedatangan kami sejak dari Pathuk hingga pantai Siung. Seperti pepatah mengatakan, "bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian", begitulah setidaknya perjalanan ke Pantai Siung yang kami alami. Kesenangan, kelegaan dan kedamaian baru bisa dirasakan ketika telah sampai di pantai. Birunya laut dan putihnya pasir yang terjaga kebersihannya seolah mengobati raga yang lelah seusai perjalanan panjang dari Jogja. Jarum jam sedang bertengger di antara angka 1 dan 2 ketika kami menginjakkan kaki di Pantai Siung. 2 rekan kami dari sie konsumsi (Alam dan Hanifa) serta 2 lagi dari logistik (Sidiq dan Hajar) menyambut kedatangan kami. Mereka berempat adalah panitia yang terlebih dahulu sampai di lokasi. Langkah kaki pun membawa kami naik menuju lokasi camping, dimana kami perlu menaiki beberapa anak tangga dan tanjakan kecil sebelum akhirnya sampai di sebuah taman rumput yang dikelilingi tatanan tebing dengan backsound gemuruh ombak yang menabrak batu karang. Pemandangan indah yang berhasil ditangkap indra penglihatan tak lantas membuat kami lupa diri. Dengan ditemani tetesan air dari langit, kami mendirikan lima tenda sebagai tempat perlindungan. Sementara beberapa rekan lain turun tangan dalam menyiapkan makan siang.

Sambil menunggu makan siang, banyak sekali aktivitas yang dilakukan masing-masing dari kami yang berbeda satu dengan lainnya. Ada yang turun ke bawah untuk melaksanakan sholat dhuhur, ada pula yang menaiki batuan dibawah tebing untuk membunuh kegabutan dengan menyaksikan atraksi ombak yang datang dari laut menuju daratan. Sedangkan Isma, yang kebetulan menjadi sie Komunikasi, sibuk sendiri mencari keberadaan sinyal handphone nya untuk mengabarkan aktivitas terkini yang kami lakukan kepada pj komunikasi di akuarium kami. Setelah menunggu sekian menit, sandwich ala chef sajan16 akhirnya datang untuk mengisi kekosongan perut kami. Lengkap dengan minuman rasa-rasa berwarna oranye, siang itu kami menikmati sekeping surga yang Tuhan titipkan di alam Gunungkidul, Yogyakarta.


(melompat di atas rumput hijau depan tenda. cr: Dirham)

(sibuk dengan pikiran masing-masing. cr: Dirham)

(dapur sajan. cr: Dirham)

(makan siang ala chef sajan. cr: Dirham)

Korlap kami, Deny, yang awalnya mengagendakan susur pantai sebagai acara di sabtu sore akhirnya mengurungkan niatnya. Acara yang gagal terlaksana itu diganti dengan “Free Time”. Mendengar sepasang kata itu, semua pencari keceriaan pun langsung pergi sesuai dengan keinginan masing-masing. Hanya ada dua pilihan, tetap menikmati alam di sekitar basecamp dengan ditemani tebing, atau turun menuju bibir pantai. Sebagian besar dari kami menghabiskan waktu di pinggir pantai. Ada yang bermain bola, berenang melawan ombak, duduk-duduk di atas pasir, ada pula yang berhammock ria dibawah naungan pohon kelapa. Yang jelas, semuanya melakukan apapun yang membuat mereka bahagia. Termasuk Dirham yang menjepret tiap sudut pantai siung lengkap dengan tingkah konyol kami sebagai bentuk pencarian “ceria” itu sendiri.


(Melawan ombak ala Sajan16. cr: Dirham)

(bukit sebelah timur. cr: Dirham)

(namanya juga cowok. cr: Dirham)

Satu pesona yang menonjol dari pantai Siung adalah batu karangnya. Karang-karang yang berukuran raksasa di sebelah barat dan timur pantai menjadi penambah keindahan sekaligus berfungsi sebagai pembatas dengan pantai lain. Jika di sisi sebelah barat, tebingnya digunakan sebagai area untuk panjat tebing, maka disisi timur terdapat pula bukit sebagai tempat untuk menikmati sunset. Untuk dapat naik ke atas bukit, kami harus membayar seribu rupiah perkepala. Dari atas bukit, keindahan pantai Siung terlihat begitu nyata. Meskipun agak ngeri ketika membuang pandangan ke bawah bukit, namun semua itu malah membuat kami berlama-lama berdiam diri diatas bukit sambil menikmati ombak yang berlarian hingga matahari pulang ke peraduan. Sayangnya, awan abu-abu di barat sana menghalangi kami menikmati indahnya matahari terbenam.


(kaum hawa Sajan16 di atas bukit. cr: cowo Sajan)

(woro lagi ngelamun. cr: Dirham)

Di tempat seunik ini, ternyata arus listrik dari PLN belum menjamah keindahan kawasan pantai Siung. Informasi ini didapat dari seorang ibu penjaga kamar mandi saat kami bertanya dimana tempat untuk mengisi ulang daya baterai kamera serta smartphone kami. Ibu tersebut berkata jika listrik di Pantai Siung hanya ada setelah petang datang. Itupun bersumber dari genset, bukan dari PLN. Sedih mendengar kabar itu, mengingat Pantai Siung sendiri berada di Pulau Jawa, sebuah pulau dimana pusat pemerintahan negara ini dijalankan.

Petang pun hadir. Bergegaslah kami menaiki tanjakan untuk sampai di basecamp. Akan tetapi sesuatu yang tidak diharapkan terjadi. Tiba-tiba saat kami sampai di camp, ada dua warga lokal menghampiri. Mereka berkata jika kami dilarang bermalam di tempat tersebut, kami hanya diperbolehkan mendirikan tenda di tepi pantai. Setelah melakukan negosiasi yang hasilnya nihil, terpaksa kami membongkar tenda dan mengemasi barang kami untuk dipindahkan ke bawah, ke tepi pantai.

Kali ini, empat tenda berhasil berdiri kembali diatas hamparan pasir putih. Tak ingin menghilangkan rasa ceria akibat “konflik tenda”, korlap pun menggiring kami untuk duduk melingkari api unggun untuk melanjutkan rangkaian acara camping ceria ala sajan16. Apalagi kalau bukan makan malam bersama. Satu persatu nasi bungkus lewat di depan kami hingga pada akhirnya terdengar kata “cukup” dari manusia yang paling ujung. Dengan lahapnya kami menyantap makan malam ditengah semilir angin pantai. Tak butuh waktu lama bagi kami untuk melaksanakan ritual makan malam di malam minggu. Sidiq selaku pembawa acara langsung memfokuskan kami ke acara selanjutnya dengan membuka acara yang bertajuk Malam Sharung, alias Malam Sharing dan Api Unggun. Sebagai pembuka acara ini, kami, sajan16 diberi kesempatan untuk mengutarakan minat kami selanjutnya sebagai calon anggota muda Mapagama. Apakah minat kami di divisi ORAD, caving, climbing ataukah di Gunung Hutan. Dengan sistem saling tunjuk, satu persatu dari kami menjabarkan kemana kami akan menuju. Namun, ketika belum separuh dari kami menjelaskan tentang keinginan kami, tiba-tiba tanpa diundang, hujan langsung datang secara keroyokan. Dengan spontan kami langsung berlarian menuju tenda flysheet di sebelah utara api unggun. 


(niup balon ga cuma di HUT. cr: Dirham)

Cerita tentang minat sajan16 akhirnya kembali dilanjutkan walaupun dalam posisi duduk saling berhimpit satu sama lain. Namun, kondisi dempet-dempetan itu tak berlangsung lama. Setelah orang terakhir selesai menjelaskan ketertarikannya, rintik hujan pun juga ikut-ikutan selesai menjatuhkan dirinya ke tanah. Akhirnya, posisi kami pun kembali ke tempat awal. Di bawah langit yang bertabur bintang, duduk melingkari api unggun yang nyalanya selalu dijaga oleh sang fireman. Usai satu-persatu sajan16 menceritakan (lebih tepatnya menjawab) pertanyaan “nanti mau lanjut divisi apa?”, acara berlanjut dengan sharing seputar ke-Mapagama-an bersama senior kami dari Kabut Alas (Kalas) juga Glati Kuat (Gawat). Ada juga mas Rizal dari angkatan Viva 27 29. Mulanya, tanya jawab dilakukan dengan bergantian mengajukan pertanyaan dan memberi jawaban, namun lama-kelamaan terbentuklah forum-forum kecil diantara kami. Sambil melahap ubi dan kacang rebus, kami saling bertukar cerita dan ceria satu-sama lain. Ada kelompok yang bercerita tentang Gladimula mereka masing-masing, ada kelompok yang melakukan tanya jawab seputar PCAM, ada juga yang melakukan permainan tepok nyamuk sekaligus ToD yang dijadikan satu. Yang jelas, semua hal, apapun itu, dilakukan agar malam minggu kami tak sendu, layaknya malam minggu para jomblo kebanyakan. Hehe..

Gunungkidul, 7 Februari 2016
Masih dengan kesibukan forum masing-masing hingga pada akhirnya salah satu diantara kami sadar jika jam sudah bergerak menjauhi angka 12. Kamipun bergegas untuk beristirahat dan meninggalkan forum ceria yang bermacam-macam bentuknya. Sebagian masuk ke dalam tenda, sebagian lagi lebih memilih tidur beralaskan ponco diatas butiran pasir putih dengan beratapkan bintang yang cahayanya samar-samar karena tertutup awan. Ada pula yang terletap dalam hammock yang diikatkan pada batang sepasang pohon kelapa menggunakan webbing. Migrasi kami ke alam mimpi berjalan menyenangkan sebelum akhirnya pada pukul tiga dinihari, hujan yang datang secara mengejutkan membuat kami berlarian menuju kemana saja yang dapat melindungi kami dari air hujan. Bagi yang telah berada dalam tenda sejak awal, sudah tenanglah hati mereka. tinggal bergeser sedikit untuk memberikan space bagi mereka yang masih berada di luar. Bagi mereka yang sedari tadi memilih tidur dibawah naungan bintang, harus segera mencari tempat untuk melanjutkan petualangan ke alam mimpi sebelum tubuh mereka benar-benar basah oleh air hujan. Pilihannya hanya dua, ikut masuk ke dalam tenda (kalo muat) atau pergi ke musholla dan sekitarnya. Berhubung tenda yang didirikan tidak sebanding dengan jumlah kami.

Tak butuh waktu lama untuk menyambut datangnya pagi. Satu persatu dari kami dibangunkan untuk mendirikan sholat subuh. Bagi sie konsumsi, pagi-pagi adalah waktu dimana mereka harus menyiapkan sarapan. Bagi korlap dan pj panjat, pagi-pagi adalah waktu yang cocok bagi mereka dalam menentukan spot pemanjatan. Bagi yang lain, pagi-pagi adalah kegabutan yang harus segera dibunuh agar keceriaan dapat kembali terlihat di wajah kami. Setelah lelah menunggu Alam mengaduk-ngaduk panci berisi kacang hijau yang telah berubah menjadi bubur kacang hijau (burjo), akhirnya saat-saat yang dinantipun datang juga. apalagi kalau bukan sarapan burjo di pinggir pantai. Dengan ceria kami lahap sepiring burjo di depan kami. Entah itu sepiring untuk satu orang, dua orang, tiga orang, yang penting sarapan burjo kali ini harus ceria sebab kami berada di sebuah acara yang mencari keceriaan. Namun kelahapan kami ternyata tak mampu membuat kami menghabiskan satu panci burjo. Alhasil, berdasarkan saran dari Mas Yusya, beberapa piring burjo kami bagikan ke pengunjung pantai lainnya. Oiya, seusai menyantap burjo, Sidiq “sang MC” harus terlebih dulu kembali ke jogja untuk menyiapkan kepulangannya menuju Bekasi. Berkuranglah satu orang dari kami. Namun hal itu tak lantas mengurangi keceriaan di wajah-wajah kami.

Edisi panjat tebing akhirnya datang juga. dengan memilih spot panjat yang tak jauh dari tempat camp kita kemarin, peralatan panjat pun disiapkan. Mulai dari tali karmantel, sit harnest maupun webbing, carabiner dengan berbagai bentuk, figure 8, sepatu panjat, chalk bag beserta kawan-kawan lain. Tak lupa pula untuk menenggerkan helm sebagai pelindung kepala ketika melakukan pemanjatan. Kebetulan, pada kesempatan kali ini kami melakukan bentuk pemanjatan runner to runner. Sebagai awal, Anwar diberi kesempatan untuk menjadi leader pertama yang membuka sesi pemanjatan di minggu pagi kami. Dengan Deny sebagai belayer, Anwar akhirnya berhasil memasangkan runner pertama. Secara bergantian kami bertindak sebagai Leader dan Belayer, yah walaupun tidak semua dari kami tertarik untuk memanjat tebing yang tingginya beberapa meter diatas pantai siung. Ada juga yang lebih berminat untuk SRT an dengan dipandu oleh Mbak Eva dan Mas Afro. Ada pula yang justru lebih berminat untuk jalan-jalan menjelajahi daerah disekitaran area panjat kami. Entah itu untuk mencari “kolam”, melihat keindahan tersembunyi dari pantai siung, maupun berjalan-jalan untuk sekedar mencari keringat. Yang jelas kami percaya pada diri kami sendiri, bahwa kami mengerjakan segala hal yang mendatangkan kata “ceria”. Hehe


(pesona pantai siung dari spot pemanjatan. cr: Dirham)

("semacam kolam". cr: Ica)

(bung Alam mencari peruntungan dari alam. cr: saya sendiri)

(dua anak cukup ya, Den?. cr: Ica)

(isma menggantungkan diri. pasrah deh. cr: Dirham)

Ketika matahari sedang sangat bersemangat menyinari Pantai Siung, akhirnya kabar baik dari sie konsumsi kembali terdengar. Apalagi kalau bukan tiga kata legendaris yang membuat siapapun terhipnotis ketika mendengarnya, “saatnya makan siang!”. Sayangnya, edisi makan terakhir kami di pantai Siung tak dapat dilakukan secara bersama-sama layaknya makan-makan sebelumnya. secara bergantian kami turun ke bawah untuk makan siang yang disajikan secara prasmanan oleh ibu-ibu yang warungnya bersebelahan dengan parkiran sepeda dengan dinding warung penuh dengan stiker organisasi dan juga kelompok pecinta alam maupun penjat tebing. Seperti makan siang di hari kemarin, lagi-lagi kami ditemani oleh minuman rasa-rasa berwarna oranye. Mungkin karena warna oranye identik dengan keceriaan, maka dipilihlah warna tersebut sebagai warna minuman kami :D

Tak terasa, kami harus segera mengucapkan salam perpisahan pada batuan karang, tatanan tebing, ombak yang saling beradu kecepatan, bulir pasir putih maupun perahu-perahu nelayan di Pantai Siung. Disini, kami bekerja sesuai dengan peran masing-masing. Di atas tebing sana, manusia-manusia pencari keceriaan sedang teliti dalam membereskan peralatan panjat tebing yang sudah dianggap sebagai pacar kami. Sedangkan manusia-manusia pencari keceriaan di pinggir pantai dengan semangatnya merobohkan tenda-tenda yang semalam kami bangun dengan penuh cinta.

Pj transportasi, Anwar, mulai mengecek kami satu persatu untuk mengingatkan tentang barang bawaan kami yang masih sama seperti sebelumnya. namun tiba-tiba Dhimas dan Heni mengutarakan sebuah statement jika mereka tak mau lagi membawa gas melon yang bocor. Jadi, semalam saat kami berada dalam lingkup “malam sarung”, Mas Wildan tak sengaja menyenggol gas melon yang masih tersambung dengan kompor. Kebocoran itu berlangsung hingga menjelang kepulangan kami dari Pantai Siung. Alam dengan seribu kekuatan super di rambutnya, akhirnya turun tangan mengatasi masalah kebocoran. Dengan segala peralatan yang terlihat di sekitar mata, Alam mencoba membuang gas yang terdapat pada gas melon. Perlu waktu cukup lama dengan suasana hati yang deg deg an saat menyaksikan atraksi pembuangan gas ini. Kaum hawa tampak panik saat gas menyembur dari bung ijo, bahkan sepertinya sama paniknya ketika mendengar kebocoran reaktor nuklir di Fukushima Daiichi Jepang. Banyak saran yang ditujukan ke Alam, mulai dari menjual gas tersebut dan menggantinya dengan yang baru, di kubur ke dalam pasir, juga di letakkan ke dalam air laut. Saran terakhir pun menjadi pilihan terbaik yang dipilih Alam. Saat alam berada di pinggir air laut sambil mencelupkan gas melon, dengan serempak kami berkata jika Alam sangat persis sekali dengan penjinak bom seperti di tivi-tivi wkwkw. Sambil menunggu gas dalam tabung ijo bercampur dengan udara bebas, kami yang dipimpin oleh Anwar, melakukan briefing sebelum pulang.

Berdasarkan hasil briefing, perjalanan sore menuju gelanggang hanya akan melalui satu meeting point, yaitu pom bensin pertama dari Pantai Siung. Setelah dirasa aman, Heni dan Dhimas akhirnya mau membawa pulang gas melon yang menjadi tanggung jawab mereka. ditutup dengan doa, kami langsung bergegas menuju sepeda motor masing-masing (tentunya dengan pasangan masing-masing pula) untuk mengawali perjalanan panjang kami menuju sekre Mapagama sebagai tempat pemberhentian terakhir.

Jalanan menuju jogja sangat ramai saat itu. Bus-bus pariwisata dan rombongan sepeda motor menjadi kendaraan dominan yang memadati jalan. Walaupun harus berteman dengan kemacetan, rasa-rasanya masih saja tampak keceriaan di wajah kami. Mungkin bagi saya dan mereka (kami lebih tepatnya) perjalanan pulang sangatlah menarik. Karena di perjalanan pulang, kami dapat sambil lalu mengenang dan merangkai cerita yang nantinya siap diceritakan pada siapa saja yang tiba-tiba menyodorkan pertanyaan dengan kalimat “ngapain aja di Siung kemaren?”.-





Komentar

Kisah lainnya

Terimakasih, Maluku, Aku Beruntung Menjadi Minoritas.

Dua Abad Perjuangan Nona dari Negeri Abubu, Martha Christina Tiahahu

Salam Manis dari Maluku