Menu

Jumat, 12 Oktober 2018

Salam Manis dari Maluku

Sabtu, 13 Oktober 2018

Pagi sekali, bersamaan dengan adzan subuh, Papen (Pak Pendeta, anak Mama dan Papa Ongka selaku keluargaku saat KKN di Waipia, Maluku) mengirim pesan singkat lewat whatsapp. Beberapa saat setelahnya, berlatjutlah komunikasi kami lewat video call dengan menampilkan wajah satu-persatu keluarga di rumah. Mulai dari Papen, Melano "Mata Menyala", Mama Ongka, Kaka Adrin (yang sedang memasak nasi goreng andalannya), Devi (teman sekelas Melano yang selalu malu-malu kasi tampil muka), dan tentunya, Papa Ongka! Semua sedang sibuk bersiap memulai hari, tapi masih semangat untuk berbincang hangat denganku, satu dari lima "anak" terkasih yang sedang jauh dari hadapan mereka. Hari ini, sudah dua bulan pasca kepergianku dari tanah Maluku setelah "mengabdi" selama satu setengah bulan lamanya. Walau sudah dua bulan, rasanya percakapan yang memeluk itu masih belum berubah.

Mama banyak bercerita, menjadi dominan di percakapan pagi ini. Beliau mengabarkan padaku jika Mama Tin (tetangga di depan rumah kami yang memanggilnya "Herodes") sedang pergi ke Serua (pulau asal masyarakat di Negeri Lesluru, desa KKN ku). Mama Tin hanya pergi selama tiga hari, karena setelah itu, kapal akan kembali ke Masohi dan mengganti penumpang dengan mereka yang hendak pergi ke Serua juga, salah satunya Papa dan Papen. Aku senang mendengar keluarga dekatku di Lesluru akan dan telah berangkat ke Serua. Mungkin Mama membaca raut kesenangan itu, hingga akhirnya beliau bertanya, "Kaka Linda, tahun depan jadi ke Serua deng kaka Hari ka seng? kalau bisa datang bulan Maret sa, nanti mangga paling banyak bulan itu," ucapnya dengan diakhiri tawa. Aku membalas dengan tawa, berharap dapat mewujudkan "keinginan" Mama. Karena menelfon pagi-pagi (di WIB masih jam 4, tapi di WIT sudah jam 6), Mama kemudian bertanya banyak hal "sederhana" selayaknya percakapan Mama kepada anaknya, seperti; "kaka linda sebentar makan deng apa?" yang kemudian dilanjutkan dengan banyak kalimat nasehat agar anak gadisnya ini makan banyak supaya tidak terlihat kurus. Mama memang tidak pernah berubah.

Satu hal yang selalu Mama ulang, untuk memberi salam kepada "saudara Melay" (teman satu sub-unit KKN yang dulu tinggal satu atap di rumah Mama) agar segera baku dapa dan menghubungi Mama lewat video sehingga Mama bisa melihat kelima anak terkasihnya secara bersama-sama, tidak satu-satu seperti ini. Setelah nyaris satu jam berbincang hangat, telpon diakhiri dengan kalimat manis, "kaka linda baik-baik di sana ee."

Gambar 1. Tiga anak gadis terkasih Mama dan Papa Ongka Lesluru

Tidak sampai satu jam berselang, keluarga Maluku lainnya menelfon, kali ini dari Haruku, satu pulau di Kepulauan Lease yang paling dekat dengan Ambon. Menjelang akhir periode KKN, aku dan teman satu sub-unitku menyempatkan pergi ke pulai ini, tepatnya di Negeri Hulaliu, untuk ikut salah satu tetangga kami di Lesluru (bapa Agus Lewakabessy) pulang kampung. Pagi ini, Mama Dhika yang merupakan saudara bapa Agus, turut menyapaku dengan hangat.

Sama seperti Mama Ongka di Lesluru, Mama Dhika Haruku juga banyak bercerita tentang apa saja yang terlewat olehku. Mulai dari Eto si rambut panjang yang baru keluar dari rumah sakit, Sandro yang baru berusia tiga tahun di rabu lalu, Arjun yang baru membeli kaos Jogja di Ambon dengan harga 40 ribu, tanggal 18 besok ada pemilihan Raja, sampai cerita-cerita nostalgia tentang kedatangan kami ke Haruku beberapa waktu lalu. Oya, tidak lupa pula Eto dan Mama Dhika memanggilku dengan "sorakan" andalan sewaktu di rumah, "Kaka Linda uuuuuuuuuu!". Percakapan dengan keluarga Hulaliu pagi ini sama-sama didominiasi oleh Mama seperti dengan keluarga di Lesluru.

Gambar 2. Oma, Mama Dhika, Bapa Agus, Eto, Sandro

Lagi-lagi, salam manis juga Mama Dhika tititpkan untuk teman-teman lain di Jogja. Kemudian mengingatkanku untuk berjuang agar bisa "tembus cita-cita". Satu kalimat yang membuatku makin rindu dengan Maluku, "Kaka Linda, tanjung Yanain su panggil-panggil par mandi air masin". Pecakapan hangatku dengan keluarga di Hulaliu pun diakhiri dengan kalimat penutup yang tak kalah manisnya, "jangan lupa berdoa terus kepada Tuhan ya, Kaka Linda. Selalu inga kampong, Tuhan memberkati kaka Linda, dado!"

Telfon ditutup. Atas percakapan-percakapan manis dari Maluku pagi ini, aku selalu percaya jika Tuhan akan terus mendatangkan hal-hal menyenangkan pasca kejadian sedih bertubi-tubi di hari kemarin.


Angin, kasi terbang bet pung rindu ke Maluku. Bawa serta bet pung salam. Bisikkan pada mereka bahwa beta akan selalu ingat deng kampong :') 


Rabu, 03 Januari 2018

Dua Abad Perjuangan Nona dari Negeri Abubu, Martha Christina Tiahahu

Saparua, 11 Oktober 2017

Siang hari seusai makan di rumah Mama piara masing-masing, kami bergegas menuju Benteng Duurstede di Saparua Kota. Dari Negeri Tiouw, kami berjalan kaki dengan sesekali disuguhi pemandangan rempah-rempah macam cengkeh dan pala sedang dijemur di halaman rumah warga yang menghadap jalan raya.

Duurstede amat lenggang. Selain kami, siang itu hanya ada satu rombongan turis asing yang kedapatan mendengar kisah dari Bapa Ulis Supusepa, pemandu yang nantinya juga menjelaskan tentang segala sesuatu di benteng ini kepada kami. Cerita sejarah yang dikisahkan oleh Bapa Ulis makin mantap apabila kita mau berkeliling sejenak di ruang dorama di bagian timur benteng.

di ruang dorama benteng Duurstede.
Tatkala menuruni tangga setelah pintu masuk, kami disambut oleh dua gambar besar yang di dalamnya melukiskan wajah dua pahlawan Maluku yang jasanya juga amat besar; Thomas Matulessy atau yang biasa dikenal sebagai Kapitan Pattimura, dan Martha Christina Tiahahu. Berbeda dengan Thomas Matulessy yang berasal dari Saparua, Martha C Tiahahu merupakan pejuang perempuan dari Nusa Laut, tepatnya di negeri Abubu. Kisah heroiknya turut terekam di benteng Duurstede Saparua sebab dirinya menjadi salah satu pejuang yang ikut dalam pemberontakan melawan penjajah di pulau ini.

Mengenang 2 Abad Perjuangan Martha Tiahahu

Lahir di Abubu, Nusa Laut yang kini masuk dalam wilayah Kabupaten Maluku Tengah, Martha Chritina Tiahahu merupakan putri dari Kapitan Paulus Tiahahu. Ia lahir 4 Januari 1800 dari rahim seorang wanita bernama Sina, asal negeri Titawai Nusa Laut.

14 mei 1817 saat terjadi pertemuan besar di Gunung Saniri, Saparua, Kapitan Paulus Tiahahu meminta ijin kepada Kapitan Pattimura untuk mengajak serta anaknya yang saat itu berusia 17 tahun untuk ikut memanggul senjata dan mendampingi sang ayah di medan perjungan. Permintaan ini bukan atas inisiatif sang ayah, akan tetapi kemauan Martha Christina selaku putri sulungnya. sejak saat itu, Martha Christina Tiahahu mendampingi ayahnya di tengah pertempuran melawan Belanda.

Aksinya sebagai remaja putri yang berani juga turut memompa semangat kaum wanita dalam pertempuran di Negeri Ouw dan Negeri Ullath, Saparua, untuk ikut serta membantu peperangan. Namun sayang, kedua negeri ini --yang merupakan pertahanan terakhir rakyat-- dibumihanguskan oleh Belanda. Semua pimpinan perang ditangkap, termasuk Martha Tiahahu dan ayahnya. Para pimpinan perang ini ditawan dalam kapal perang Eversten untuk kemudian dijatuhi hukuman.

Kapitan Paulus Tiahahu dijatuhi hukuman mati, ia dibunuh oleh pasukan Belanda di belakang benteng Beverwijck Nusalaut. Martha Christina Tiahahu yang saat itu dianggap terlalu muda, dia dibebaskan dari hukuman mati, akan tetapi ditawan oleh Belanda untuk dibawa ke Jawa untuk dipekerjakan secara paksa di perkebunan.

Di dalam pelayaran menuju Jawa, Martha Christina Tiahahu menolak untuk makan, hingga ia jatuh sakit akan tetapi tetap saja menolak untuk diobati oleh Belanda. Perlawanan di atas kapal Eversten yang dilakukan oleh Martha Tiahahu akhirnya disudahi dengan kematiannya yang jatuh pada 2 Januari 1818, tepat dua hari sebelum ulang tahunnya yang ke-18.

Di Laut Banda, jenazah Martha Christina Tiahahu dilarungkan. Menjadikan tempat ini sebagai taman bahagia pejuang perempuan asal Maluku yang sekaligus sebagai pahlawan nasional. Kisah heroiknya selalu terkenang di dalam hati basudara di Maluku. Sebagai bentuk penghormatan, di Karang Panjang, Ambon, dibangun patung Martha Christina Tiahahu yang menghadap ke laut. Menurut temanku, Wanda, posisi patung yang dihadapkan ke laut disimbolkan sebagai seorang Martha Tiahahu sedang melihat jenazahnya yang dilarungkan di Laut Banda.

Lagu untuk Nona Manis dari Negeri Abubu

Selain kami --tim Ekspedisi Jalur Rempah Pulau Saparua-- terdapat empat tim di pulau lain, salah satunya Nusalaut. Saat bertemu di Ambon, teman-teman Nusalaut banyak sekali menyanyikan lagu yang berkaitan dengan perjuangan Martha Christina Tiahahu yang juga berasal dari Nusalaut. Menurut rekan kami di tim Nusalaut, Bang Jeha, lagu-lagu ini dinyanyikan saat momen penting macam penyambutan tim, upacara pelepasan, hingga satu lagu yang mereka dapat dari Raja negeri Abubu.

Dari sekian lagu tersebut, satu lagu berjudul Nona Manise. Liriknya kudapat dari Mas Dawan --yang juga tim Nusalaut-- dan dilengkapi oleh irama lagu yang direkam oleh Bang Jeha. Nona Manise menceritakan tentang perjuangan Martha Christina Tiahahu yang berjuang akibat kesewenang-wenangan penjajah Belanda dalam memonopoli rempah-rempah --pala dan cengkeh-- di Maluku.

Saat ini, mungkin musim sedang tidak bersahabat dengan rempah-rempah macam pala dan cengkeh di Maluku. Namun, beratus tahun lalu, harum buah pala dan bunga cengkeh inilah yang akhirnya membawa bangsa barat datang ke tanah Maluku sebagai salah satu penghasil rempah-rempah di Nusantara. Kedatangan mereka membuat pahlawan macam Martha Tiahahu bergerilya melawan Belanda yang telah merusak tatanan ekonomi, sosial dan politik masyarakat Maluku atas nama rempah-rempah.

(lirik lagu Nona Manise)

4 Januari 2018

218 tahun lalu, Martha Christina Tiahahu dilahirkan. 17 tahun setelahnya, ia berjuang mendampingi sang ayah untuk melawan ketidak adilan. Saat termenung usai membaca biografi singkat nona dari Negeri Abubu di dorama benteng Duurstede Oktober lalu, aku seolah kehabisan kata-kata. Di usia 17 tahun, Martha C Tiahahu sudah tahu tentang apa yang harus dilakukannya untuk orang banyak, sedangkan aku yang 2 Abad kemudian membaca kisahnya --terlebih di usiaku yang sudah menginjak 20 tahun-- bahkan masih sibuk mengurusi kebahagiaan diri sendiri.

Siang itu, sebagai langkah kecil terhadap penghormatanku kepada beliau, aku berjanji untuk menulisakan sedikit kisah Martha Christina Tiahahu dari apa yang sudah kudapat di ekpedisi jalur rempah, tepat di hari ulang tahunnya pada 4 januari 2018. Bukan apa-apa, aku hanya ingin teman-temanku turut mengetahui kisah perjuangan Martha Tiahahu, tentang seorang remaja putri pemberani dari Negeri Abubu, Nusalaut, Kepulauan Lease, Maluku Tengah.

Aku ingin siapapun yang nantinya membaca tulisan ini tahu, bahwa di Laut Banda yang luas, bersemayam Martha Christina Tiahahu tepat dua abad pada 2 Januari lalu. Jika kita mau berlayar jauh dari Tulehu menuju arah tenggara, melewati Laut Banda yang luas, kita akan bertemu dengan gugusan pulau di Kepulauan Banda yang keindahannya cukup diperhitungkan --pun merupakan salah satu tempat yang ingin kutinggali dalam beberapa waktu di masa depan--. Dari kisah Martha Tiahahu dan Laut Banda, aku jadi tersadar jika dibalik keindahannya, terdapat kisah pilu yang seolah sebanding dengan keelokan yang ditawarkan.

Berkenalan dengan banyak teman berlatar belakang ilmu sejarah di ekspedisi jalur rempah, membuatku makin yakin jika kisah-kisah sejarah --seperti perjuangan Martha Tiahahu yang kutulis ini-- amat penting untuk dipelajari dan dimaknai sampai membuat hati haru. Agar kita, sebagai manusia pasca penjajahan, dapat lebih arif dalam melihat kehidupan.

Terakhir, Selamat ulang tahun, Martha Christina Tiahahu! Semoga selalu bahagia di seberang, katong yang tinggal teruskan perjuangan e :)

Minggu, 31 Desember 2017

Merangkum 2017


Tiap tahun yang dilalui, pasti punya cerita berbeda dibanding tahun-tahun lainnya, termasuk 2017. Tahun ini bisa dibilang tahun yang penuh tantangan, namun beruntung aku berhasil melewati 2017 dengan tetap chill, plus tidak lupa diisi dengan kebahagiaan, pengalaman baru, jalan-jalan, bertemu teman-teman baru. yang jelas, aku merasa keahlian dalam mereview jurnal-jurnal buat tugas kuliah makin oaoe aja hehe. Dari banyak hal yang dijalani selama 365 hari, berikut beberapa catatan yang berhasil dirangkum:

Mengurangi list “tempat yang belum pernah dikunjungi”

Tiap tahun, harapannya makin banyak tempat-tempat baru yang berhasil dikunjungi. Nah, berikut ini empat dari sekian tempat yang berhasil disambangi selama 2017~

-          Paninggaran, Pekalongan
Januari 2017, aku dan teman-teman di jurusan antropologi melaksanakan TPL (Teknik Penelitian Lapangan) sebagai salah satu agenda wajib bagi setiap mahasiswa antropologi. Tahun ini, penelitian kami dilakukan di Kecamatan Paninggaran, Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah. Banyak hal baru yang kutemui di tempat ini, dan semua itu terangkum di dalam data harian TPL dan beberapa unggahan di instagram dengan hastag #30HariBercerita, #LindaBercerita, #LindaBerbagi dan hastag lain yang berlokasi di Paninggaran. Oiya, satu hal yang pasti, Paninggaran khususnya Desa Notogiwang membuatku benar-benar menyaksikan seperti apa simbah-simbah yang sedang mengunakan bahasa Jawa, akan tetapi aku tak mengerti satu pun kata yang beliau-beliau ini ucapkan.

-          Gunung Argopuro, Jawa Timur
Praktis, Gunung Argopuro sebagai gunung dengan jalur terpanjang di pulau Jawa ini menjadi satu-satunya gunung yang berhasil kusinggahi di tahun 2017. Sebenarnya, beberapa gunung masuk ke list tujuanku tahun ini, tapi akhir tahun ini banyak hal tak terduga yang membuatku harus ikhlas mencoret beberapa daftar gunung yang sudah kutulis jauh-jauh hari. Argopuro menjadi saksi bagaimana aku dan kesembilan rekanku benar-benar bercengkrama dengan alam.

-          Semarang, Jawa Tengah
Jadi....saat perayaan Idul Adha kemarin, aku dan Imas pergi ke Semarang untuk mengunjungi Diana. Dengan naik bus ekonomi yang sesaaaak dari terminal Jombor, Jogja, menuju ke Semarang dekat tugu kuda UNDIP aku dan Imas berjuang melawan rasa kantuk dan gerah selama 4 jam lebih agar kami tidak kebablasan sampai di tujuan. Di Semarang, aku, Imas dan Diana pergi ke destinasi di kota yang mungkin bagi banyak orang dianggap b aja tapi bagiku dan Imas yang baru ke Semarang, tempat-tempat ini sungguh unik dan menarik hmm. Sebut saja Kota Lama, Lawang Sewu, Toko Oen, sampai Simpang Lima.

-          Maluku
Oktober 2017, aku pergi untuk menjejakkan kaki di tanah Maluku, tempat para ‘raja’ tinggal. Tuhan sungguh mengabulkan mimpi untuk ke Maluku lewat cara yang benar-benar tak terduga.  Apalagi Maluku, tempat ini juga tak kalah hebatnya dalam membabat habis semua ekspektasiku tentangnya. Bagiku, Maluku –khususnya Ambon dan Saparua, memiliki banyak energi baik yang dengan senang hati mereka bagikan kepada siapapun yang menginjakkan kaki di tanahnya, termasuk aku. Sedikit cerita tentang Maluku sempat kuceritakan di postingan ini. 

Rekor dijahit

Hehe, jadi......tiap akhir semester menjelang uas di dua semester tahun 2017 (semester 4 dan semester 5) aku punya kebiasaan baru; suka tega membenturkan bagian tubuhku hingga berdarah dan harus ditangani orang-orang berbaju putih yang mendadak jadi tukang jahit huhu. Mei 2017, kepala sebelah kiriku bocor setelah aku pingsan –untuk pertama kalinya dalam hidup- lalu tidak sengaja menjontoskan kepalaku ke sudut bingkai pintu kamar kos Dian –teman kuliahku yang hari itu sedang ulang tahun. Maka di hari itu, Minggu 28 Mei 2017 menjadi hari dimana seorang Linda pingsan dan dijahit untuk pertama kalinya.

Penjahitan kedua terjadi pada Sabtu 18 November 2017. Saat itu, aku dan beberapa teman sedang dalam perjalanan menuju Pantai Ngobaran di Gunung Kidul untuk melakukan mini riset ala-ala psdm Kemant 2017 hehe. Kali ini, jahitan ditujukan pada lutut sebelah kananku yang sampai detik ini –saat kutulis catatan ini- masih saja membuat kaki kananku belum bisa berjalan secara normal, yang sekaligus membuat agenda bulan november-desember dan januariku menjadi sedikit berantakan :’)

Belajar banyak dari film yang ditonton

Tahun 2017, rasanya aku banyak menyisihkan rupiah untuk menyaksikan karya sutradara Indonesia yang tayang di bioskop. Awal Desember ini aku juga berkesempatan keluar masuk JAFF-Jogja Asian Netpac Film Festival secara gratis dengan berbekal co-card official media partner yang kudapat dari KRJogja. Dari film-film yang kutonton sepanjang tahun ini, beberapa aku tulis kesan-kesanku di postingan ini. Kalau boleh jujur, film-film yang kutonton selama 2017 ini menjadi salah satu penyumlai energi untuk mewujudkan mimpi-mimpi, eya~

Foto sama ‘yang digemari’

Selain teman baru, 2017 aku juga ketemu dan berhasi foto bareng sama beberapa influencer dalam mendalami hobi. Ada Kadek Arini, travel bloger lulusan Arsitektur UGM, Mas Aan Masyur yang kukenal lewat Kukila, dan Keluarga Belo Mantap Djiwo yang punya anak macam Sekala si menggemaskan itu.







Harus legowo liat band-band-an idola pada “bubar”

Kenyataan pahit yang harus diterima di penghujung 2017 adalah kabar tentang dua vokalis di dua band yang kusenangi memutuskan untuk tidak melanjutkan karier mereka, satu adalah Giring vokalis Nidji, dan satu lagi Mas Is sebagai pemilik suara mendayu di balik Payung Teduh. 2017 menjadi tahun terakhir mereka bersama-sama dengan band masing-masing. Ya sebagai penggemar, berharap sekali kapan-kapan mereka bisa reunian dan bikin konser heuheu :”)


Kalau dicermati baik-baik, 2017ku ibarat naik rollercoaster, sempet dibawa naik tinggi lewat pengalaman-pengalaman baru tak terduga, tapi di waktu setelahnya dibiarkan jatuh terjembab sampe berdarah-darah dan kudu dijahit wkwk. Apapun itu, aku tetap harus bersyukur dan berterima kasih kepada Tuhan atas 2017 yang luar biasa dan penuh warna. I’ve learned a lot this year!