Menu

Sabtu, 25 November 2017

Menurut Jilbab yang Dikenakan, Saya Digelari Status Apa?

Kemarin saya membuka timeline twitter yang sudah agak ngadat karena jaringan saya ternyata tidak bekerja secara maksimal saat berada di kampung halaman.  Merasa banyak sekali tertinggal informasi di twitter -yang menjadi sosial media paling saya gandrungi dibanding lainnya- tapi beruntung ada satu topik 'menarik' yang masih bisa saya ikuti; tentang salah satu brand jilbab tanah air yang tengah menggratiskan jilbab untuk salah satu aktris yang belakangan ramai diperbincangkan akibat keputusan besar -bersifat sangat pribadi dan sensitif- yang diambilnya. Brand jilbab tersebut, menurut perbincangan di twitter yang saya amati, memasang gambar si aktris dengan dibubuhi tulisan di salah satu akun instagram penjualan online brand tersebut, tanpa ijin terlebih dahulu kepada si empunya wajah.

Bagi saya pribadi, satu kalimat yang ditempelkan pada gambar tersebut terlihat sangat menyakitkan hati apabila saya yang berada di posisi si aktris. Jika berbicara masalah strategi dakwah yang dilakukan brand tersebut, menurut saya masih ada cara yang lebih arif ketimbang memposting gambar beserta caption, yang menurut saya, malah memperkeruh suasana, bahkan seolah makin memojokkan posisi si aktris. Apalagi ketika saya cermati lebih banyak, postingan tersebut sempat menggratiskan/memberi diskon jilbab kepada siapa-siapa yang memiliki nama panggilan sama dengan si aktris. Namun, kemudian saya lihat juga jika postingan tersebut 'katanya' sudah diedit dan perihal diskon untuk pemilik 'nama sama' sudah dihapus, yang berarti kini fokus postingan tersebut benar-benar tertuju pada si aktris. Namun, jika berbicara pada konteks strategi bisnis, tentu sangat tidak etis apabila memanfaatkan kegundahan orang lain sebagai bahan jualan. Saya rasa, pihak marketing lebih tahu seperti cara jualan sehat, asal bisa berpikir dengan hati yang dingin.

Saya tidak mau menjadi orang yang cuma bisa 'nyacati' tindakan orang lain, maka saya ingin memberi saran kepada pihak brand kerudung yang merasa sedang saya bicarakan; kalau niatnya memang dakwah, silahkan datangi aktrisnya, kasih katalognya kalo si aktris mau. Kalau niatnya untuk berbisnis, saya rasa pihak marketing seharusnya lebih bijak lagi dalam memutuskan konten jualan yang akan disebar ke publik. Opini pribadi saya berkata jika mencari rejeki atas dasar sesuatu yang viral dari kegelisahan saudara lain, adalah sesuatu yang kurang baik. Namun, saran yang lebih utama dari saya adalah: tolong hargai setiap keputusan orang lain, karena apa yang menurut anda baik, belum tentu sama baiknya di mata orang lain.


(dijepret di salah satu pameran di kota jogja, November 2017)


Dari kasus ini, saya jadi ingin bercerita tentang pengalaman pribadi yang baru-baru ini terjadi. Konteksnya tidak terlalu sama, tapi masih dalam satu lingkaran permasalahan yang menurut saya sangat sensitif.

Beberapa hari lalu, saya sempat ikut perbincangan ringan di salah satu grup chat. Entah bermula dari mana, tiba-tiba salah seorang laki-laki dalam grup tersebut berkata jika saya bukan kriteria wanita pilihannya, karena level saya belum termasuk ke level ukhti-ukhti :)) Setelah si laki-laki berkata demikian, grup tiba-tiba sepi dan tinggal satu-dua orang yang menanggapi sekenanya -saya tidak termasuk karena memilih untuk 'read saja' lalu pergi tanpa pamit, dan obrolan malam itu pun berakhir bak pedagang kacang rebus alun-alun yang mengkukuti dagangannya karena sudah malam.

Dari kalimat sederhana namun 'nyelekit' itu, banyak muncul pertanyaan dalam diri saya kepada siapapun orang yang melakukan hal demikian kepada perempuan, terutama mereka yang berjilbab; "sebenarnya, definisi ukhti itu seperti apa? Apa benar jika status tersebut memiliki jenjang macam pendidikan formal di Indonesia? Atau justru kita saja -orang Indonesia, yang menempelkan jenjang ke-ukhtian kepada definisi yang mungkin menurut orang timur tengah sana menagangapnya 'ukhti' sebagai panggilan layaknya orang jawa memanggil anak perempuan dengan sebutan 'nduk', tanpa harus ditempeli jenjang-jenjang tertentu. Saya benar-benar butuh volunteer yang mau menjelaskan perihal ini, karena saya tidak mau jika dicap sebagai pembelajar google saja.

Saat berkunjung ke Maluku beberapa waktu lalu, saya belajar satu kejelasan identitas, tidak bias seperti lingkungan sekitar saya yang masih sering berkata macam, "iya, dia pake kerudung tapi bla bla bla". Di Maluku, semua anak perempuan akan dipanggil Nona. Tapi jika dikerucutkan lagi, mereka yang mengenakan kerudung sebagai simbol keagamaan muslim, akan dipanggil 'Caca', sedang mereka yang bukan, akan dipanggil 'Ussi'. Jelas disini tidak ada unsur yang kemudian mengklasifikasi jenis-jenis Caca ataupun Ussi, karena definisi keduanya tidak lebih dari sekedar panggilan untuk anak perempuan Maluku. Lewat istilah sederhana ini, saya tidak menemukan kebingungan yang kemudian sangat berbeda rasanya apabila saya mendengar beberapa orang di sekitar ketika mereka mengklasifikasi panggilan bagi perempuan semacam 'Ukhti'.

Kembali lagi ke urusan Ukhti dalam konteks obrolan dalam grup chat yang sudah saya ceritakan. Dari obrolan tersebut, kesimpulan sedikit ngawur dari saya adalah; orang Indonesia masih gandrung menilai apa-apa dari penampilan. Saya tahu, si laki-laki itu tidak benar-benar dekat dengan saya, kami hanya sempat bekerjasama dalam waktu kurang lebih satu minggu, plus satu-dua pertemuan singkat setelahnya. Maka saya yakin, laki-lai tersebut menarik kesimpulan jika 'saya bukan level ukhti-ukhti' berdasar kerjasama atas nama kebetulan, serta mungkin dari apa yang saya unggah di instagram pribadi saya, hehe. lha iya to, kan sekarang instagram tuh masuk kategori platform yang bisa melakukan pendefinisian bagi seseorang, maka posting yang baik-baik aja biar kamu dianggap anak baik-baik :))

Bagi siapapun yang mau menilai saya, silahkan, karena itu hak kalian. Tapi saran aja nih ya, kalau mau melakukan penilaian tuh baiknya dari banyak kategori; mulai dari attitude saat ketemu langsung plus penampilan fisik deh, dari postingan saya di medsos juga boleh, dan sebetulnya, menilai orang dari 'katanya' juga boleh kok, sok-sok aja. Tapi saya harap, bagi siapapun yang baru kenal dan mungkin udah lama kenal tapi tidak begitu paham dengan watak saya, baiknya tidak perlu menjudge dalam urusan sesitif perihal pilihan hidup, ya, my lov. Saya pikir, hal ini juga berlaku untuk orang lain, tidak cuma saya. Hehe. Saya tahu, mungkin bagi kalian, yang seperti itu adalah dakwah secara tidak langsung (( dengan memberi contoh, ini lho yang levelnya ukhti, ini yang tidak )), entahlah, atau mungkin niatnya cuma becanda tapi saya aja yang terlalu baper.

Tapi, ada satu simpulan yang saya rasa sama antara kasus mbak-mbak aktris tadi, dengan apa yang saya alami. Simpulan ini lebih tepatnya berisi pertanyaan; bisa ngga sih, kalian 'berdakwah' tanpa harus menyakiti hati saudara yang lain? Kalau bisa, mending dipilih jalan yang sama-sama membuat hati damai. Kalau tidak, baiknya kita belajar sama-sama yuk :)

Hehe, maaf sih kalau saya dianggap terlalu spaneng. Saya dasarnya cuma pengen cuap-cuap aja kok disini. Kan ini buku harian virtual saya.

Cerita ini (( lebih tepatnya curhatan yang dibaluti opini pribadi, ingat ya pribadi )) saya tulis benar-benar dari lubuk hati paling dalam dengan harapan tidak banyak orang yang tersinggung atas apa yang telah ditulisakan. Karena mustahil jika saya berharap tidak ada yang tersinggung. Gile aje, hebat banget dah kalo sampe kaga ada yang tersinggung wkwk. Banyak harapan lain yang saya sisipkan setelah saya memutuskan membagikan tulisan ini; mulai dari refleksi terhadap saya pribadi, refleksi bagi siapapun yang nantinya membaca tulisan ini, sampai harapan semoga kaki saya cepet sembuh biar bisa petakilan lagi (halah ra nyambung, Lin).
.
Oya, saya punya catatan untuk siapapun yang berhasil membaca sampe akhir: Hey, bro/sist, everyone has their own standard to run he/she's life. Kata guru SMA dan salah satu iklan rokok di tipi, life is a choice. Jadi, kita tidak berhak mengangkangi kemerdekaan dalam bertindak bagi tiap-tiap orang, kalau memberi saran dan saling menasehati, boleh. Tapi, toh keputusan akhir ada di tangan masing-masing kan? Semoga postingan ini berfaedah, dan semoga Tuhan senantiasa memberi berkah bagi apa-apa yang kita lakukan di dunia ini. Salam! 

*kemudian memberi pelukan virtual*

Jumat, 10 November 2017

Project Van Tiouw #1: "Dokumentasi" Tari Lenso

Negeri Tiouw, Saparua, Maluku Tengah.
Selasa, 10 Oktober 2017.

 Siang, tapi mendung. Kami -tim Ekspedisi Jalur Rempah Saparua, disambut meriah oleh basudara negeri Tiouw. Turun dari otto warna-warni, musik dari pengeras suara yang berada di pojok tenda halaman kantor negeri, berbunyi nyaring. Berbalut baju merah-abu-abu andalan tim EJR, kami berjalan rapi memasuki halaman berumput hijau yang pinggir-pinggirnya sudah dipenuhi oleh banyak orang, -tua, muda, laki-laki, perempuan, semua ada.

 Di area sebelah utara, berjejer rapi anak-anak yang kutaksir merupakan murid SD-awal SMP, mengenakan baju cele, seragam khas anak-anak Maluku dengan motif kotak-kotak berwarna merah agak muda dan putih. Saat tim EJR sudah persis bersebrangan dengan mereka, musik yang nyaring tadi dimatikan. satu. dua. tiga. empat detik, sunyi. pluk, suara tifa kemudian memecah kesunyian, disusul oleh harmoni suara anak-anak -yang sebagian besar perempuan- menyanyikan sebuah lagu. Rupanya lagu yang mereka bawakan adalah pengiring tarian 12 teman putri mereka yang mengenakan baju putih, dan kain merah sebagai bawahan. Namanya Tari Lenso.

 Tarian sambutan ini dibawakan dengan anggun, diiringin musik dan nyanyian sederhana, tapi berkesan dan mengundang haru bagiku. Siang itu, ada sedikit bulir air yang menetes dari kedua mata yang disebabkan oleh dua hal; pertama, terharu karena disambut oleh saudara yang baru pertama kali berjumpa; kedua, sedih karena tidak bisa ikut mendokumentasikan secara digital akibat telpon pintarku yang kehabisan daya.

(dipotret oleh bang Elvan de Porres)

 Tari Lenso....satu tarian anak maluku...manari lenso manise...


(menari dengan sapu tangan putih. Cr: Elvan)

 Sebenarnya, iringan lagu dari tari Lenso ini mudah untuk diingat, karena selama kurang lebih 9 menit kami disuguhi tari Lenso, lirik yang dibawakan merupakan pengulangan dari sebelumnya. Kesederhanaan iringan lagu tari lenso rupanya melahirkan rasa cinta, menjadi penghubung manis antara aku dan Maluku. Siang itu, dalam hati aku berjanji untuk menghafalkan lirik lagu iringan tari Lenso. 

Samarinda-Yogyakarta.
5-10 November 2017.


 Walau tidak pernah lengkap, aku selalu berusaha menyanyikan lagu iringan Tari Lenso. Lewat lagi ini, aku merasa selalu bisa mengingat Saparua -disamping lagu Tobelo tentunya. Tapi lama-lama bosan juga jika terus menerus melafalkan secara setengah-setengah. Akhirnya niat untuk menghafalkan lagu iringan ini tiba-tiba tumpah-ruah. Awalnya kuhubungi Wanda, Bang Ian (sebagai dua orang Maluku) dan Fikri (sebagai si tukang menulis lirik lagu) untuk membantuku, barangkali mereka bisa memberikan padaku lirik lengkap lagu iringan Tari Lenso. Sambil bertanya, aku mencoba berselancar di internet, tapi nihil. Beruntung ingatanku masih bisa diandalkan, kubuka kembali file-file yang didapat dari teman-teman EJR, sebab kuingat betul jika si Nurmi pernah merekam tari penyambutan ini. Hasilnya, tentu menyenangkan!

 Kutulis kalimat-kalimat yang muncul dari bibir-bibir mungil anak-anak Negeri Tiouw lewat video tari lenso yang kala itu direkam Nurmi. Sayangnya, ada beberapa kata yang sama sekali tidak kupahami walau sudah didengar berkali-kali. Dengan bantuan dari Wanda, aku berhasil melengkapi kata yang kosong dan dengan perasaan bahagia berhasil menyanyikan lagu iringan Tari Lenso secara lengkap. Sebagai informasi, aku mengalami kesulitan dalam menyerap kata-kata ini dengan sempurna; kadonci dan pung donci.

 Memang manusia, dasarnya merupakan makhluk yang sulit sekali merasa puas, maka aku pun juga begitu agar diakui sebagai manusia #hehe. Jadi, usai keberhasilan menulis lirik lengkap lagu iringan tari Lenso, masalah baru muncul; bosan jika menyanyi tanpa diiringi oleh alunan musik. Disini lah, project Van Tiouw #1 ini bermula.

 Ku hubungi Herlan yang berada di Samarinda sana, alasannya cuma satu: Herlan adalah pengiring gitar andalan tim Saparua. Ku ajak dia untuk membantuku membuat iringan gitar sekaligus menuliskan chordnya, karena sungguh aku tidak paham dengan dua hal ini. Beruntungnya, Herlan mengiyakan ajakan aneh-aneh dariku, dan berikut hasil kolaborasi jarak jauh kami.

begini lirik lagu iringan tari Lenso beserta chord gitarnya:

E                             A
Tari lenso, tari lenso sio datang dari

E
ambon

F#m B         E
Satu tarian, satu tarian anak maluku

A                                                                                     E
Lenggang balenggang, lenggang balenggang, balenggang dari sana

B                           A                                 E
Untuk menghibur, untuk menghibur hati yang susah

B A                             E        F#m B         E
Pukul tifa totobuang, totobuang dari rumah tiga. Manari lenso goyang badane, manari lenso manise

E                 A                                 E      F#m B                                                            E
Kapal tiga, kapal tiga sio datang dari sana. Kapal yang tengah, kapal yang tengah buat kadonci

A                                                             E     B                            A E
Sio nona tiga, sio nona tiga balenggang dari sana. Nona yang tengah, nona yang tengah sapa pung donci

B A         E        F#m B E
Pukul tifa totobuang, totobuang dari rumah tiga. Manari lenso goyang badane, manari lenso manise


(audio lengkap lagu iringan tari lenso, dinyanyikan oleh Linda dan Herlan)

Project Van Tiouw pertama ini memang diposting dalam blog Linda, tetapi merupakan karja dari banyak pihak, seperti:

1. Herlan sang gitaris yang sudah mau diajak LDP alias Long Distance Project bersamaku haha. Samarinda-Jogja tidak menghalangi kita untuk bikin project ala-ala, yha! Semoga project selanjutnya segera menyusul, doakan saja ya teman-teman semoga Herlan tidak kapok wkwk.

2. Nurmi yang sudah merekam acara penyambutan EJR Saparua, dimana salah satu videonya berisi tari Lenso full version dari anak-anak Negeri Tiouw. Video ini sangat membantuku dalam menuliskan lirik lagu, juga Herlan dalam mencari chord gitar.

3. Wanda yang sudah membantu membetulkan lirik lagu tari Lenso dari ku -yang masih butuh banyak belajar kosa kata bahasa Maluku.

4. Bang Elvan  yang banyak memotret momen di Tari Lenso. Berkatnya, kita bisa melihat secara visual bagaimana anak-anak negeri Tiouw, Saparua menari Lenso, tanpa perlu menerka-nerka lebih banyak.

5. Keluarga Van Tiouw-ku yang lain. Dimana mereka setiap hari selalu berkontribusi dalam memenuhi memori telepon dengan sapaan hingga foto-foto hina. Berkat kicauan kalian, Aku dan Herlan jadi semangat menyelesaikan misi ini, haha! Semoga kalian senang dengan ini :)

 Harapannya, apa yang diunggah dalam postingan ini dapat membantu dalam mendokumentasikan kearifan yang dimiliki Indonesia, khususnya pulau dua sampan kebanggan kami, Saparua. Semoga kedepannya makin banyak jejak digital tentang wajah Indonesia yang berhasil kami dokumentasikan!

(Nona van Tiouw menari Lenso manise. Cr: Elvan)


Salam Rindu untuk Maluku,

-Linda Fitria van Tiouw.

Kamis, 02 November 2017

Terimakasih, Maluku, Aku Beruntung Menjadi Minoritas.



Dua angka di kalender bulan Oktober, 9 dan 22, menjadi penanda yang akan terus diingat untuk waktu-waktu selanjutnya. Di antara kedua angka ajaib ini, aku banyak sekali memproduksi kisah untuk dicatat dalam bagian tertentu dalam kepala. Kisahku kali ini adalah tentang Aku yang bertemu sekumpulan orang dalam lingkaran bernama Ekspedisi Jalur Rempah 2017, Provinsi Maluku. Keberuntungan yang kudapat sehingga bisa bergabung dalam forum ini (karenanya Aku bisa “merampok” banyak pengalaman hidup) menuai banyak ucapan terima kasih dariku untuk banyak pihak yang sebenarnya tidak bisa kusebut satu-persatu, akan tetapi postingan ini justru ditujukan kepada mereka. Kepada siapapun ciptaan Tuhan yang terlibat dalam pembuatan kisah manis antara Aku dan Maluku.

Baik, mari kita mulai.

Terima kasih pertama, untuk Dirjen Sejarah, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, baik kepada jajaran pemimpin di dalamnya, penginisiasi kegiatan Ekspedisi Jalur Rempah 2017, hingga segenap panitia yang terlibat –mulai dari panitia pusat hingga lokal. Terutama untuk Mbak Devi (panitia pusat batch 1 yang sekaligus merupakan senior saya di Antropologi UGM), dimana berkat share informasi dari beliau-lah saya bisa mendapatkan kesempatan untuk terbang ke Maluku. Dalam kategori per-panitia-an ini, mungkin akan saya masukkan juga para mas-mbak EO yang di hari-hari terakhir mulai kupahami perannya (bahwa sebenarnya mereka kebanyakan mahasiswa semester akhir yang tidak memiliki ikatan apa-apa dengan Kemendikbud, hehe).

Terima kasih kedua, kepada Tanah Maluku yang indah! Sebuah mimpi yang akhirnya menjadi nyata ketika berhasil menginjakkan kaki di Maluku untuk pertama kali. Sedikit cerita, awal semester 5 lalu, entah karena dorongan apa aku mencetak peta provinsi Maluku untuk ditempel pada sampul buku kuliah dan mading di kamar. Ada harapan kecil yang ditautkan pada keduanya, “ah, barangkali tahun depan Aku bisa KKN disana”. Pun selanjutnya muncul motivasi macam “ayo nabung yang banyak buat ke Maluku!” “ayo cari tim buat jadi pengusul KKN di Maluku!” dan sebagainya, dan sebagainya. Kemudian, keajaiban terjadi dengan bergabungnya aku dengan tim Ekspedisi Jalur Rempah, lewat pemberitahuan via telepon yang kuterima senin pagi, September lalu.

Maluku benar-benar mengajarkanku bagaimana caranya menjadi seorang minoritas melalui proses yang indah. Awalnya tak ada yg benar-benar berbeda saat pertama kali mendaratkan kaki di Ambon, selain rupa-rupa baru yang kutemui di bandara Pattimura pagi itu. ohya, bahasa yang digunakan mereka pun masih kumengerti, setidaknya aku pernah berada di antara orang-orang yang sama sekali tak kumengerti bahasanya seperti orang-orang sepuh di bukit-bukit Paninggraan, Pekalongan. Namun Kota Ambon hanyalah sebagian kecil dari Maluku, sebab semua berbeda saat aku mulai menginjakkan kaki di Saparua, Kepulauan Lease, Maluku Tengah. Disini aku disambut oleh masyarakat yang sebagian besar beragama Nasrani. Pun Mama Papa piara sebagai keluarga yang “menampungku” selama di Saparua, juga merupakan keluarga Nasrani yang memiliki seekor anjing cokelat manis bernama Nona.

Segala kebaikan yang kudapatkan di Saparua membuatku merasakan bagaimana menjadi seorang minoritas dalam konteks paling sensitif di negeri ini. Seminggu menjalani kehidupan bersama keluarga dan lingkungan Nasrani ternyata memberiku banyak sekali hal baru; melihat bagaimana seorang Mama menyiapkan segala sesuatu untuk ibadah di rumah; mendengarkan Mama, Papa dan teman-temannya mengalunkan ayat-ayat suci di ruang depan; menyaksikan Negeri Tiouw sebagai negeri tempat tinggalku, benar-benar sepi di minggu pagi. Aku seringkali terharu akan banyak hal-hal sederhana yang diberikan oleh Saparua dan orang-orang di dalamnya. Masih segar diingatan bagaimana tiap pagi mama bangun menyiapkan sarapan, apalagi disaat hari kepulangan kami ke Ambon. Mama, Papa, juga Nona, melepas kepergian kami di pagi buta. Aku juga ingat betul bagaimana Pak Agustinus selaku Pejabat Negeri menutup perpisahan kami dengan doa Nasrani yang entah mengapa membuat malam itu air mataku mengalir sebab merasakan banyak hal; bersyukur, terharu, sedih sekaligus senang.

Kawan, ada satu lagi hal menarik yang kutemukan di Maluku, tentang sistem Pela Gandong yang menjadikan orang-orang Maluku saling terikat satu sama lain. Awalnya aku banyak “dijejali” kisah persaudaraan ini dari Aida, Wanda dan Nadira, tiga temanku yang berdomisili di Ambon. Lambat laun, seiring bertambahnya interaksi dengan orang-orang Maluku, makin banyak pula kuserap semangat persaudaraan dari sistem Pela Gandong ini. Pela dan Gandong merupakan dua hal yang berbeda namun berada dalam satu kesatuan. Pela merupakan ikatan persaudaraan antara satu negeri dan negeri lain yang lokasinya berjauhan, tetapi masih dalam lingkup Maluku. Salah satu aturan yang mengikat dalam sistem Pela adalah dilarang terjadi adanya ikatan pernikahan antar saudara yang terikat Pela. Pela muncul karena adanya satu kesamaan nasib, dimana para leluhur mereka dahulu pernah menjalani kehidupan yang susah dan senang secara bersama-sama sehingga saling membantu. Leluhur ini kemudian mengangkat sumpah yang menyatakan bahwa mereka adalah saudara yang kelak keturunannya tidak boleh melakukan ikatan perkawinan. Sedangkan Gandong, dikisahkan jika mereka yang terikat Gandong memiliki satu nenek moyang yang sama. Mereka yang terikat sistem Gandong pun juga sama, tidak boleh melakukan perwakilan, sebab jika hal ini terjadi, akan dikenai sumpah oleh leluhur mereka. Orang Ouw di Saparua yang merupakan kampung Kristen, misalnya, menggap orang Sei di pulau Ambon sebagai Gandong mereka karena merasa bahwa mereka berasal dari satu garis keturunan, walau Sei sebagai kampung dengan mayoritas Muslim. Larangan dan sanksi-sanksi dalam hubungan gandong hampir mirip dengan larangan-larangan dan sanksi-sanksi dalam hubungan pela. Karena itu orang seringkali menyebut pela-gandong, walaupun keduanya merupakan dua hubungan kekerabatan yang latar belakang pembentukannya berbeda satu dengan yang lain.

                Maka, dari segala hal yang sudah kudapat, Maluku bagiku adalah tentang kemurahan hati. Maluku adalah tentang orang-orang yang percaya bahwa manusia tidak dipersoalkan dengan masalah identitas, karena saling mencintai dan mengasihi antar sesama harusnya tak tersekat oleh batas-batas. Lewat sistem dan pola hidup Pela-Gandong, mengajarkan kepadaku bahwa persaudaraan dapat terjalin, melampaui batas suku dan agama. Menjadi saudara berarti saling merasakan satu sama lain, seperti kata kaos oblong yang kubeli di Pasar Mardika sore itu, Ale Rasa, Beta Rasa. Maluku adalah tentang orang-orang yang dipersatukan oleh Laut, Kenari, Pala, Sagu dan segala hal yang dijual di pasar-pasar negeri. Maluku juga tentang memaafkan luka sejarah yang telah ditoreh, mengingatkan bahwa seharusnya manusia “beragama” kepada keberagaman dan kebaikan. Dan Maluku bagiku adalah tentang alunan musik yang senantiasa berdendang dalam Oto warna-warni, pun tentang rupa-rupa bahagia diantara hentakan kaki pada iringan lagu Tobelo.

Terima kasih ketiga, kusampaikan pada teman-teman EJR ku yg berasal dari Sabang sampai Merauke, terkhusus koridor Saparua. Dari kalian pun, aku juga belajar bagaimana menjadi minoritas. Pembelajaran sebagai seorang minoritas yang kurasakan disini adalah menjadi 'asing' di tatanan bahasa. Bersama mereka, aku sadar jika menjadi Jawa tidak berarti apa-apa (padahal sebenarnya aku Cuma numpang hidup di Jawa, sih, bukan asli Jawa). Tapi tetap saja, baru kali ini, di lingkaran ini, aku mendapat gelar Medok, bahkan Ngapak. Aku masih ingat betul bagaimana Alan Aceh memanggilku Jeblok, yang seolah mengidentikkan seorang Linda dengan Jawa yang medok. Aku juga ingat saat Mas Adit yang juga perwakilan Jawa Tengah (tapi asal Jakarta) bertanya padaku tentang "De Pe" yang sering disebutkan oleh Bang Kasmat asal Gorontalo. Peristiwa ini membuatku bersyukur, setidaknya bukan aku saja yang merasakan bertanya-tanya tentang “De Pe” milik Bang Kasmat. Maka disini, aku seolah menjadi penonton dua kubu besar dimana aku tidak termasuk dalam keduanya; antara mereka yang mendiami Sumatra dengan dialek Melayu yg khas, juga mereka yang berasal dari Maluku, Nusa Tenggara dan Papua yang suka sekali menyingkat kata. Aku merasa terjebak diantara dua kelompok ini, sebagai seorang 'Jawa' yang sedikit kesusahan menyerap percakapan ketika dua kelompok besar ini saling melontarkan kekhasan mereka dalam berbahasa.

Jadi, untuk segala percakapan dengan banyak warna yang sudah kita bangun selama dua pekan kemarin, kuucapkan terima kasih banyak kepada kalian; Alan Sabang, Tami Palembang, Risa Padang, Nurmi Riau, Andre Lampung, Fikri Jakarta rasa Bengkulu, Mas Adit Semarang rasa Jakarta, Herlan Samarinda, Kak Tajir Mandar, Bang Kasmat Gorontalo, Bang Elvan Maumere, Miki Papua, Aida-Nadira-Wanda-Bang Ijal-Riski selaku tuan rumah dari Maluku. Juga pendamping-pendamping Tim Saprua; Bang Dodot, Bang Ian, Pak Pieter, Pak Nurwahyudi & Bang Andre. Di postingan lain, mungkin akan kuceritakan kalian dengan rinci, agar ingatanku akan kalian juga terekam dalam laman digitalku ini. Terima kasih, kawan-kawan EJR! Tanpa masuk ke dalam lingkaran ini, mungkin aku tidak akan mengerti bagaimana rasanya menyanyikan Lagu Indonesia Raya dan Padamu Negeri bersama orang-orang dengan logat berbeda tapi bercampur menjadi kesatuan harmoni yang indah :)

Terakhir, selain berterima kasih kepada Tuhan dan Ibu yang selalu mendoakanku dari kejauhan, aku pun harusnya berterima kasih kepada diriku sendiri yang sudah berhasil menyerap energi-energi positif dari orang-orang baru yang ketemukan di negeri para raja, Maluku.



(Ibu penjaga salah satu dusung/kebun di Saparua)



(Tim EJR Pulau Saparua)


(Aku dan anak-anak Negeri Tiouw)


(Nona Van Tiouw)