Menu

Rabu, 03 Januari 2018

Dua Abad Perjuangan Nona dari Negeri Abubu, Martha Christina Tiahahu

Saparua, 11 Oktober 2017

Siang hari seusai makan di rumah Mama piara masing-masing, kami bergegas menuju Benteng Duurstede di Saparua Kota. Dari Negeri Tiouw, kami berjalan kaki dengan sesekali disuguhi pemandangan rempah-rempah macam cengkeh dan pala sedang dijemur di halaman rumah warga yang menghadap jalan raya.

Duurstede amat lenggang. Selain kami, siang itu hanya ada satu rombongan turis asing yang kedapatan mendengar kisah dari Bapa Ulis Supusepa, pemandu yang nantinya juga menjelaskan tentang segala sesuatu di benteng ini kepada kami. Cerita sejarah yang dikisahkan oleh Bapa Ulis makin mantap apabila kita mau berkeliling sejenak di ruang dorama di bagian timur benteng.

di ruang dorama benteng Duurstede.
Tatkala menuruni tangga setelah pintu masuk, kami disambut oleh dua gambar besar yang di dalamnya melukiskan wajah dua pahlawan Maluku yang jasanya juga amat besar; Thomas Matulessy atau yang biasa dikenal sebagai Kapitan Pattimura, dan Martha Christina Tiahahu. Berbeda dengan Thomas Matulessy yang berasal dari Saparua, Martha C Tiahahu merupakan pejuang perempuan dari Nusa Laut, tepatnya di negeri Abubu. Kisah heroiknya turut terekam di benteng Duurstede Saparua sebab dirinya menjadi salah satu pejuang yang ikut dalam pemberontakan melawan penjajah di pulau ini.

Mengenang 2 Abad Perjuangan Martha Tiahahu

Lahir di Abubu, Nusa Laut yang kini masuk dalam wilayah Kabupaten Maluku Tengah, Martha Chritina Tiahahu merupakan putri dari Kapitan Paulus Tiahahu. Ia lahir 4 Januari 1800 dari rahim seorang wanita bernama Sina, asal negeri Titawai Nusa Laut.

14 mei 1817 saat terjadi pertemuan besar di Gunung Saniri, Saparua, Kapitan Paulus Tiahahu meminta ijin kepada Kapitan Pattimura untuk mengajak serta anaknya yang saat itu berusia 17 tahun untuk ikut memanggul senjata dan mendampingi sang ayah di medan perjungan. Permintaan ini bukan atas inisiatif sang ayah, akan tetapi kemauan Martha Christina selaku putri sulungnya. sejak saat itu, Martha Christina Tiahahu mendampingi ayahnya di tengah pertempuran melawan Belanda.

Aksinya sebagai remaja putri yang berani juga turut memompa semangat kaum wanita dalam pertempuran di Negeri Ouw dan Negeri Ullath, Saparua, untuk ikut serta membantu peperangan. Namun sayang, kedua negeri ini --yang merupakan pertahanan terakhir rakyat-- dibumihanguskan oleh Belanda. Semua pimpinan perang ditangkap, termasuk Martha Tiahahu dan ayahnya. Para pimpinan perang ini ditawan dalam kapal perang Eversten untuk kemudian dijatuhi hukuman.

Kapitan Paulus Tiahahu dijatuhi hukuman mati, ia dibunuh oleh pasukan Belanda di belakang benteng Beverwijck Nusalaut. Martha Christina Tiahahu yang saat itu dianggap terlalu muda, dia dibebaskan dari hukuman mati, akan tetapi ditawan oleh Belanda untuk dibawa ke Jawa untuk dipekerjakan secara paksa di perkebunan.

Di dalam pelayaran menuju Jawa, Martha Christina Tiahahu menolak untuk makan, hingga ia jatuh sakit akan tetapi tetap saja menolak untuk diobati oleh Belanda. Perlawanan di atas kapal Eversten yang dilakukan oleh Martha Tiahahu akhirnya disudahi dengan kematiannya yang jatuh pada 2 Januari 1818, tepat dua hari sebelum ulang tahunnya yang ke-18.

Di Laut Banda, jenazah Martha Christina Tiahahu dilarungkan. Menjadikan tempat ini sebagai taman bahagia pejuang perempuan asal Maluku yang sekaligus sebagai pahlawan nasional. Kisah heroiknya selalu terkenang di dalam hati basudara di Maluku. Sebagai bentuk penghormatan, di Karang Panjang, Ambon, dibangun patung Martha Christina Tiahahu yang menghadap ke laut. Menurut temanku, Wanda, posisi patung yang dihadapkan ke laut disimbolkan sebagai seorang Martha Tiahahu sedang melihat jenazahnya yang dilarungkan di Laut Banda.

Lagu untuk Nona Manis dari Negeri Abubu

Selain kami --tim Ekspedisi Jalur Rempah Pulau Saparua-- terdapat empat tim di pulau lain, salah satunya Nusalaut. Saat bertemu di Ambon, teman-teman Nusalaut banyak sekali menyanyikan lagu yang berkaitan dengan perjuangan Martha Christina Tiahahu yang juga berasal dari Nusalaut. Menurut rekan kami di tim Nusalaut, Bang Jeha, lagu-lagu ini dinyanyikan saat momen penting macam penyambutan tim, upacara pelepasan, hingga satu lagu yang mereka dapat dari Raja negeri Abubu.

Dari sekian lagu tersebut, satu lagu berjudul Nona Manise. Liriknya kudapat dari Mas Dawan --yang juga tim Nusalaut-- dan dilengkapi oleh irama lagu yang direkam oleh Bang Jeha. Nona Manise menceritakan tentang perjuangan Martha Christina Tiahahu yang berjuang akibat kesewenang-wenangan penjajah Belanda dalam memonopoli rempah-rempah --pala dan cengkeh-- di Maluku.

Saat ini, mungkin musim sedang tidak bersahabat dengan rempah-rempah macam pala dan cengkeh di Maluku. Namun, beratus tahun lalu, harum buah pala dan bunga cengkeh inilah yang akhirnya membawa bangsa barat datang ke tanah Maluku sebagai salah satu penghasil rempah-rempah di Nusantara. Kedatangan mereka membuat pahlawan macam Martha Tiahahu bergerilya melawan Belanda yang telah merusak tatanan ekonomi, sosial dan politik masyarakat Maluku atas nama rempah-rempah.

(lirik lagu Nona Manise)

4 Januari 2018

218 tahun lalu, Martha Christina Tiahahu dilahirkan. 17 tahun setelahnya, ia berjuang mendampingi sang ayah untuk melawan ketidak adilan. Saat termenung usai membaca biografi singkat nona dari Negeri Abubu di dorama benteng Duurstede Oktober lalu, aku seolah kehabisan kata-kata. Di usia 17 tahun, Martha C Tiahahu sudah tahu tentang apa yang harus dilakukannya untuk orang banyak, sedangkan aku yang 2 Abad kemudian membaca kisahnya --terlebih di usiaku yang sudah menginjak 20 tahun-- bahkan masih sibuk mengurusi kebahagiaan diri sendiri.

Siang itu, sebagai langkah kecil terhadap penghormatanku kepada beliau, aku berjanji untuk menulisakan sedikit kisah Martha Christina Tiahahu dari apa yang sudah kudapat di ekpedisi jalur rempah, tepat di hari ulang tahunnya pada 4 januari 2018. Bukan apa-apa, aku hanya ingin teman-temanku turut mengetahui kisah perjuangan Martha Tiahahu, tentang seorang remaja putri pemberani dari Negeri Abubu, Nusalaut, Kepulauan Lease, Maluku Tengah.

Aku ingin siapapun yang nantinya membaca tulisan ini tahu, bahwa di Laut Banda yang luas, bersemayam Martha Christina Tiahahu tepat dua abad pada 2 Januari lalu. Jika kita mau berlayar jauh dari Tulehu menuju arah tenggara, melewati Laut Banda yang luas, kita akan bertemu dengan gugusan pulau di Kepulauan Banda yang keindahannya cukup diperhitungkan --pun merupakan salah satu tempat yang ingin kutinggali dalam beberapa waktu di masa depan--. Dari kisah Martha Tiahahu dan Laut Banda, aku jadi tersadar jika dibalik keindahannya, terdapat kisah pilu yang seolah sebanding dengan keelokan yang ditawarkan.

Berkenalan dengan banyak teman berlatar belakang ilmu sejarah di ekspedisi jalur rempah, membuatku makin yakin jika kisah-kisah sejarah --seperti perjuangan Martha Tiahahu yang kutulis ini-- amat penting untuk dipelajari dan dimaknai sampai membuat hati haru. Agar kita, sebagai manusia pasca penjajahan, dapat lebih arif dalam melihat kehidupan.

Terakhir, Selamat ulang tahun, Martha Christina Tiahahu! Semoga selalu bahagia di seberang, katong yang tinggal teruskan perjuangan e :)

Minggu, 31 Desember 2017

Merangkum 2017


Tiap tahun yang dilalui, pasti punya cerita berbeda dibanding tahun-tahun lainnya, termasuk 2017. Tahun ini bisa dibilang tahun yang penuh tantangan, namun beruntung aku berhasil melewati 2017 dengan tetap chill, plus tidak lupa diisi dengan kebahagiaan, pengalaman baru, jalan-jalan, bertemu teman-teman baru. yang jelas, aku merasa keahlian dalam mereview jurnal-jurnal buat tugas kuliah makin oaoe aja hehe. Dari banyak hal yang dijalani selama 365 hari, berikut beberapa catatan yang berhasil dirangkum:

Mengurangi list “tempat yang belum pernah dikunjungi”

Tiap tahun, harapannya makin banyak tempat-tempat baru yang berhasil dikunjungi. Nah, berikut ini empat dari sekian tempat yang berhasil disambangi selama 2017~

-          Paninggaran, Pekalongan
Januari 2017, aku dan teman-teman di jurusan antropologi melaksanakan TPL (Teknik Penelitian Lapangan) sebagai salah satu agenda wajib bagi setiap mahasiswa antropologi. Tahun ini, penelitian kami dilakukan di Kecamatan Paninggaran, Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah. Banyak hal baru yang kutemui di tempat ini, dan semua itu terangkum di dalam data harian TPL dan beberapa unggahan di instagram dengan hastag #30HariBercerita, #LindaBercerita, #LindaBerbagi dan hastag lain yang berlokasi di Paninggaran. Oiya, satu hal yang pasti, Paninggaran khususnya Desa Notogiwang membuatku benar-benar menyaksikan seperti apa simbah-simbah yang sedang mengunakan bahasa Jawa, akan tetapi aku tak mengerti satu pun kata yang beliau-beliau ini ucapkan.

-          Gunung Argopuro, Jawa Timur
Praktis, Gunung Argopuro sebagai gunung dengan jalur terpanjang di pulau Jawa ini menjadi satu-satunya gunung yang berhasil kusinggahi di tahun 2017. Sebenarnya, beberapa gunung masuk ke list tujuanku tahun ini, tapi akhir tahun ini banyak hal tak terduga yang membuatku harus ikhlas mencoret beberapa daftar gunung yang sudah kutulis jauh-jauh hari. Argopuro menjadi saksi bagaimana aku dan kesembilan rekanku benar-benar bercengkrama dengan alam.

-          Semarang, Jawa Tengah
Jadi....saat perayaan Idul Adha kemarin, aku dan Imas pergi ke Semarang untuk mengunjungi Diana. Dengan naik bus ekonomi yang sesaaaak dari terminal Jombor, Jogja, menuju ke Semarang dekat tugu kuda UNDIP aku dan Imas berjuang melawan rasa kantuk dan gerah selama 4 jam lebih agar kami tidak kebablasan sampai di tujuan. Di Semarang, aku, Imas dan Diana pergi ke destinasi di kota yang mungkin bagi banyak orang dianggap b aja tapi bagiku dan Imas yang baru ke Semarang, tempat-tempat ini sungguh unik dan menarik hmm. Sebut saja Kota Lama, Lawang Sewu, Toko Oen, sampai Simpang Lima.

-          Maluku
Oktober 2017, aku pergi untuk menjejakkan kaki di tanah Maluku, tempat para ‘raja’ tinggal. Tuhan sungguh mengabulkan mimpi untuk ke Maluku lewat cara yang benar-benar tak terduga.  Apalagi Maluku, tempat ini juga tak kalah hebatnya dalam membabat habis semua ekspektasiku tentangnya. Bagiku, Maluku –khususnya Ambon dan Saparua, memiliki banyak energi baik yang dengan senang hati mereka bagikan kepada siapapun yang menginjakkan kaki di tanahnya, termasuk aku. Sedikit cerita tentang Maluku sempat kuceritakan di postingan ini. 

Rekor dijahit

Hehe, jadi......tiap akhir semester menjelang uas di dua semester tahun 2017 (semester 4 dan semester 5) aku punya kebiasaan baru; suka tega membenturkan bagian tubuhku hingga berdarah dan harus ditangani orang-orang berbaju putih yang mendadak jadi tukang jahit huhu. Mei 2017, kepala sebelah kiriku bocor setelah aku pingsan –untuk pertama kalinya dalam hidup- lalu tidak sengaja menjontoskan kepalaku ke sudut bingkai pintu kamar kos Dian –teman kuliahku yang hari itu sedang ulang tahun. Maka di hari itu, Minggu 28 Mei 2017 menjadi hari dimana seorang Linda pingsan dan dijahit untuk pertama kalinya.

Penjahitan kedua terjadi pada Sabtu 18 November 2017. Saat itu, aku dan beberapa teman sedang dalam perjalanan menuju Pantai Ngobaran di Gunung Kidul untuk melakukan mini riset ala-ala psdm Kemant 2017 hehe. Kali ini, jahitan ditujukan pada lutut sebelah kananku yang sampai detik ini –saat kutulis catatan ini- masih saja membuat kaki kananku belum bisa berjalan secara normal, yang sekaligus membuat agenda bulan november-desember dan januariku menjadi sedikit berantakan :’)

Belajar banyak dari film yang ditonton

Tahun 2017, rasanya aku banyak menyisihkan rupiah untuk menyaksikan karya sutradara Indonesia yang tayang di bioskop. Awal Desember ini aku juga berkesempatan keluar masuk JAFF-Jogja Asian Netpac Film Festival secara gratis dengan berbekal co-card official media partner yang kudapat dari KRJogja. Dari film-film yang kutonton sepanjang tahun ini, beberapa aku tulis kesan-kesanku di postingan ini. Kalau boleh jujur, film-film yang kutonton selama 2017 ini menjadi salah satu penyumlai energi untuk mewujudkan mimpi-mimpi, eya~

Foto sama ‘yang digemari’

Selain teman baru, 2017 aku juga ketemu dan berhasi foto bareng sama beberapa influencer dalam mendalami hobi. Ada Kadek Arini, travel bloger lulusan Arsitektur UGM, Mas Aan Masyur yang kukenal lewat Kukila, dan Keluarga Belo Mantap Djiwo yang punya anak macam Sekala si menggemaskan itu.







Harus legowo liat band-band-an idola pada “bubar”

Kenyataan pahit yang harus diterima di penghujung 2017 adalah kabar tentang dua vokalis di dua band yang kusenangi memutuskan untuk tidak melanjutkan karier mereka, satu adalah Giring vokalis Nidji, dan satu lagi Mas Is sebagai pemilik suara mendayu di balik Payung Teduh. 2017 menjadi tahun terakhir mereka bersama-sama dengan band masing-masing. Ya sebagai penggemar, berharap sekali kapan-kapan mereka bisa reunian dan bikin konser heuheu :”)


Kalau dicermati baik-baik, 2017ku ibarat naik rollercoaster, sempet dibawa naik tinggi lewat pengalaman-pengalaman baru tak terduga, tapi di waktu setelahnya dibiarkan jatuh terjembab sampe berdarah-darah dan kudu dijahit wkwk. Apapun itu, aku tetap harus bersyukur dan berterima kasih kepada Tuhan atas 2017 yang luar biasa dan penuh warna. I’ve learned a lot this year!

Sabtu, 30 Desember 2017

Film Pilihan Selama 2017


Di 2017, saya terbilang lebih sering menginjakkan kaki ke bioskop dibanding 2016. Salah satu faktor utamanya mungkin karena saya merasa makin banyak film-film yang masuk dalam kategori "Linda banget," hehe. Senangnya, tahun ini bioskop-bioskop kita makin banyak mengangkat film-film karya anak bangsa yang sebelumnya lebih sering kita jumpai di festival-festival film. Nah, di bawah ini saya akan sedikit menjabarkan tentang 6 film Indonesia yang berhasil saya tonton dan membawa pesan dan kesan menarik untuk diceritakan.

Istirahatlah Kata-kata
Awal kuliah semester 4, beberapa hari setelah mendaratkan kaki di Jogja, Saya ditemani Sekar dan Dwings memutuskan untuk menyaksikan film mengenai Wiji Thukul, seorang pembuat sajak sekaligus pemberontak di masa orde baru yang hingga saat ini tidak jelas keberadaanya. Sepanjang film, mayoritas kami sebagai penonton disuguhi oleh kesunyian, dibiarkan bertanya-tanya tentang apa yang akan terjadi selanjutnya. Alurnya tenang, namun berhasil menceritakan bagaimana perlawanan Wiji Thukul lewat pembawaan yang tenang tapi mendebarkan. Gunawan Maryanto sebagai pemeran Wiji Thukul -yang kemudian saya sadar jika beliau satu almamater hehe- berhasil membantu saya membayangkan dengan lebih jelas seperti apa sosok Wiji Thukul yang puisinya melekat di hati sebagai simbolisasi perjuangan kaum akar rumput. Oya, judul film ini juga merupakan judul puisi karya Wiji Thukul yang punya makna dalam sekali~~



Ziarah
Dengan tagline #MeiBerziarah, saya memutuskan untuk turut berziarah bersama Mbah Sri, pemeran utama dalam film yang diperankan oleh Mbah Ponco, simbah dari Gunung Kidul berusia 90 tahun. Alur utama dari film ini adalah kenekatan Mbah Sri untuk mencari pasangan kerisnya yang tidak lain adalah milik suaminya yang sudah meninggal, Mbah Pawiro Sahid.

Bersama Mbah Sri, kita diajak nyekar tanpa banyak basa basi, diajak menyaksikan perjuangan Mbah Sri mencari makam milik suami yang dahulu pamit untuk berangkat perang. Alasannya sederhana, Mbah Sri ingin ketika ia meninggal nanti, bisa dimakamkan di samping makam suaminya.

Ending film yang sekaligus memberikan jawaban atas perjalanan dan pencarian Mbah Sri selama ini, sungguh di luar dugaan. di bagian ini, saya benar-benar menangis. rupanya Mbah Pawiro bukan meninggal karena perang, bahkan beliau masih hidup hingga beberapa tahun kemudian. Ia tak pulang karena menikah dengan orang lain, yang saat itu makamnya ditemukan oleh Mbah Sri bersebelahan dengan makam Mbah Pawiro.

Ibarat sebuah ekspresi, Film Ziarah adalah cinta. Tidak perlu rayuan, tersirat dan tidak perlu dibumbui oleh air mata. dan karena diibaratkan sebagai cinta, Film Ziarah mengajak kita untuk berdamai dengan masa lalu seperti yang dilakukan Mbah Sri.




Negeri Dongeng
Dari semua film yang saya ulas disini, Negeri Dongeng merupakan satu-satunya film yang mencurahkan banyak kesabaran untuk 'sekedar' menunggu tayang. Di balik film ini terdapat 7 pendaki utama yang berambisi menjejakkan kaki di 7 puncak tertinggi Indonesia, mereka bernama Aksa7. Beruntung pada 2014 lalu, saya bertemu mereka di Gunung Rinjani sebagai tanah tertinggi di gugusan Nusa Tenggara. Sejak saat itu, saya selalu mengikuti perkembangan tim ini lewat official media yang mereka punya. Penantian selama 3 tahun ternyata lebih tinggi dibanding ekspektasi yang saya bangun. Negeri Dongeng tidak hanya bercerita tentang puncak-puncak tertinggi di negeri ini, lebih dari itu, cerita lain untuk mencapai ketujuh puncak tertinggi juga turut dikisahkan dengan apik.

Negeri Dongeng memulai perjalanan dari barat menuju timur Indonesia. Di Sumatera, selain menampilkan kegagahan Kerinci sebagai gunung api tertinggi di Indonesia, Anggi dkk juga mengajak kita menengok fakta tentang perkebunan teh disana. Di Jawa, dikisahkan tentang petani-petani yang penghasilannya tak seberapa sehingga memutuskan tim Aksa7 membeli hasil panen para petani di desa Ranu Pani untuk dijadikan logistik selama pendakian di Semeru. Saat di Rinjani, rasa haru muncul saat beberapa diantara mereka rela merayakan hari Natal di gunung demi mimpi naik gunung yang mungkin oleh sebagian orang dianggap tidak ada gunanya. saat mendaki Bukit Raya di Kalimantan, tim bertemu dengan para penambang di sekitaran gunung yang merasa jika tindakan mereka dianggap bukan merupakan suatu kesalahan yang dapat merusak lingkungan.

Memasuki wilayah timur Indonesia, dimulai dengan Latimojong di Sulawesi. Dalam kisah di gunung ini, Negeri Dongeng memberikan fakta tentang betapa susahnya akses kendaraan menuju desa terdekat. disini pula, kekompakan mereka sebagai sebuah tim diuji, dengan tetap berangkat tanpa satu rekan demi mengejar ambisi, atau mengurungkan niat untuk tetap naik. selanjutnya, pendakian Binaiya menjadi salah satu yang mengundang haru bagi saya. di kaki gunung tertinggi di tanah Maluku ini, tenaga pendidik benar-benar jauh dari kata cukup. Negeri Dongeng mengajak kita menyelami kisah perjuangan guru di salah satu desa di Pulau Seram, Maluku, sebagai manusia penyalur ilmu yang berjuang demi mencerdaskan kehidupan bangsa.

Cartenz Pyramid menjadi puncak terakhir yang sekaligus sebagai puncak tertinggi di Indonesia. salut sekali saat menyaksikan mama-mama menjadi porter pendakian, yang membawa anak-anak mereka untuk turut serta. Pendakian tanah Papua merupakan edisi pendakian dengan personel paling banyak, hehe.

Negeri Dongeng sukses menyajikan suguhan apik alam Indonesia yang kaya, beragam dan penuh kisah tak terduga di baliknya. 



Marlina the Murderer in Four Acts

Tahun 2017 menjadi tahun saya belajar masalah Gender. di semester 4 saya mengambil mata kuliah kajian gender, di semester 5 saya pun mengambil mata kuliah kajian konflik yang sebagian besar menceritakan ketimpangan gender yang dialami perempuan yang seringkali menjadi korban dalam konflik maupun kekerasan. Menuju penghujung tahun 2017, saya akhirnya memutuskan untuk menyaksikan Marlina sebagai salah satu film yang menurut teman-teman antro dianggap sebagai yang "gender banget!"

Memang benar, film besutan Mouly Surya ini menampilkan sisi feminis yang mampu menjadikan pemeran utama, Marlina, sebagai perempuan yang berani mengambil sikap -memenggal kepala Markus si pemerkosa untuk dibawa ke kantor polisi. Bersama Novi, rekannya yang tengah hamil 10 bulan, dua perempuan Sumba ini digambarkan sebagai perempuan yang tidak lagi berperan sebagai objek, melainkan manusia yang memiliki naluri dan tekad untuk bertahan.

selain alur cerita yang tidak biasa, penonton juga dimanjakan oleh visualisasi yang apik, membuat siapapun sepertinya berniat untuk ke Sumba sehabis menonton Marlina, termasuk saya. Mendengar setiap percakapan yang ada di film, membuat saya rindu dengan percakapan selama di Maluku bersama basudara di sana. Marlina membuat saya rindu pada timur!

oya, saya terharu ketika menjelang film berakhir terdapat adegan Novi berhasil melahirkan dan dibantu oleh Marlina, setelah sebelumnya Novi menyelamatkan Marlina dengan memenggal kepala pria yang tengah menyetubuhi Marlina. Sesaat setelah bayi Novi lahir, mereka berdua menangis haru, yang menurut saya menjadi simbolisasi keberhasilan dua perempuan hebat yang mampu membabat ketidakadilan. di dalam adegan ini, baik Novi maupun Marlina sama-sama mengenakan baju berwarna biru tua dan bawahan berwarna merah, dimana secara kebetulan sekali malam itu saya mengenakan outfit dengan warna yang sama seperti mereka berdua. Sepulang dari bioskop saya kemudian tahu jika warna biru dan merah merupakan dua warna asli tenun Sumba sebelum belakangan ini dicampuri oleh warna-warna lain. Saya belum mengerti secara pasti tentang alasan dari mbak Mouly Surya memilih dua warna ini, kapan-kapan kalo ketemu Mbaknya, akan coba saya tanyakan hehe.

sedikit tambahan, beberapa hari setelah menonton film Marlina, ada satu hal lain yang terus melekat selain alur cerita yang disajikan; petikan jungga oleh Markus yang kerap kali digambarkan dengan kondisi badan tanpa kepala.



Tengkorak
Di dalam link ini saya bercerita tentang film Tengkorak yang ternyata merupakan hasil karya akademisi di kampus UGM. Beberapa pemain di dalam film bergenre fiksi sains ini juga melibatkan tokoh-tokoh penting di UGM seperti Pak Panut sebagai Rektor UGM, Pak Made Andi sebagai salah satu dosen Geologi UGM favorit saya, serta satu dosen antropologi, Mas Made ternyata berperan sebagai salah satu pimpinan tentara dalam film ini.



Tarling is Darling
Selain Tengkorak, Tarling is Darling menjadi satu dari tiga film yang saya ulas atas dasar tugas liputan di JAFF-Jogja Netpac Asian Film Festival ke-12. Saat memilih film ini sebagai bahan liputan, sesungguhnya saya tidak tehu-menahu tentang apa yang nantinya ditayangkan dalam film ini. Barulah setelah mencup jadwal, H-1 saya menyaksikan trailer film yang ternyata membuat saya kaget sebab harus menelan fakta jika saya akan ditemani iringan musik dangdut ala Indramayu selama film diputar, hehe. Review lengkapnya, silahkan kunjungi liputan saya disini. Yang berkesan dari film ini menurut saya adalah proses pembuatannya. di dalam sesi Q&A saat itu, sang sutradara bercerita banyak mengenai lika-liku pembuatan film yang menurut saya berhasil membenturkan dua hal yang bertolak belakang lewat cara yang apik.


2018 nanti, saya berharap dapat lebih banyak menyaksikan karya-karya sineas tanah air. Semoga saya lebih rajin lagi untuk menyisihkan rupiah agar lebih lancar melenggang ke bioskop, hehe.